Kamis, 08 Desember 2016

[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 4: Mbak Mirna si Pelayan Bahenol

Sumber: www.nerds.co



5 tahun lalu di Purworejo

"Mbak Mirna, saya titip Keisha ya. Maaf kalau kami jadi tambah merepotkan, tapi Bapak benar-benar harus ikut saya ke Yogyakarta. Mbak Mirna tenang saja, kami tetap akan balik ke Purworejo 1 bulan sekali," kata Ibu kepada Mbak Mirna.

"Iya, Mbak Mirna tahu sendiri, saya susah mencari pekerjaan di sini sejak saya kehilangan sebelah kaki saya. Kalau saya juga bekerja, kami bisa ikut urun bayar kontrakannya Mbak Mirna, jadi nggak cuma numpang seperti sekarang," lanjut Bapak.

"Aduuuuh.. apanya ta yang merepotkan? Selama ini, saya ikhlas membantu Bapak sama Ibu. Saya seneng loh, Bapak, Ibu, sama Keisha tinggal di kontrakan saya. Kan saya jadi nggak kesepian," kata Mbak Mirna dengan gaya bicaranya yang khas, penuh keramahan dan kemayu.

"Kami sebenarnya merasa nggak enak karena sering merepotkan Mbak Mirna. Sudah numpang di kontrakannya Mbak Mirna, sekarang malah mau nitipin anak," kata Bapak.

Senin, 05 Desember 2016

Nasihat Yang Harus Kau Baca Sebelum Membaca Cerita Horor

Perkenalkan, namaku Nurani. Kisahku bisa dibaca di sini.

Aku jarang mencoba mengajakmu berkomunikasi. Kecuali aku ingin memberitahu sesuatu yang memang sungguh penting. Aku sungguh-sungguh berharap kau membaca dulu nasihatku ini sampai selesai, agar kau paham apa resiko yang akan kau hadapi.

Aku harap kau baca nasihat ini sampai selesai, jangan berhenti di tengah-tengah, agar kau selamat.

Setelah itu, pilihanmu untuk mengabaikan atau memikirkannya.

***

Janganlah kau mengira aku hanya berdiri dan terpisah jauh dari dunia. Aku di sini, sambil memperhatikan. Satu persatu darimu, tak luput dari perhatianku. Seperti pula kuperhatikan bahwa kau saat ini begitu senang membaca kisah-kisah tentang kami dan dunia kami.

sumber: pixabay.com

Tapi tahukah kau, bahwa cerita horor bukan sekedar cerita. Cerita tersebut juga menjadi perantara, untuk menyuarakan kisah kami yang seharusnya sudah tiada. Melalui ketakutanmu, kami ikut hadir, bahkan sejak awal cerita kau baca.

Menemanimu...

Kalau beruntung, rasa takut itu akan berlalu dalam sekejap. Tapi seringkali rasa takutmu mengendap, bahkan setelah cerita kau tutup.

Jangan kau kira bila kau membaca pada siang hari, maka kami tak kan ikut hadir. Kami hadir, pasti hadir. Menunggu waktu yang tepat untuk memperlihatkan diri, saat malam yang sunyi, ketika benakmu kembali memutar cerita yang kau baca sesiang tadi.


Kamis, 01 Desember 2016

[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 3: Rahasia Bapak

Chapter 1 Andre

Chapter sebelumnya: Chapter 2 Keluarga Soedrajat

Aku membuka mataku perlahan. Aku mengedip-ngedipkan mataku, mencoba menyesuaikan penglihatanku dengan kondisi sekitarku. Ketika kuedarkan pandanganku, hanya kegelapan yang kudapatkan.

"Haloooooooo.. apa ada orang di sini?"

Hening.

"Haloooooooo.."

Keheningan kembali menyapaku.
Di mana aku?